Ada Sosok Ibu yang Mengagumkan Dibalik Kejeniusan Mahasiswa Termuda di ITB

ANOMALI. Iya, satu kata itu bisa menggambarkan kisah Musa Izzanardi Wijanarko. Usianya baru 14 tahun. Tapi namanya mendadak melejit dan bikin banyak orangtua di negeri ini iri. Jelas iri, ketika anak seusianya baru duduk di bangku SMP, tapi bocah satu ini sudah bersiap kuliah di kampus bergengsi, Institut Teknologi Bandung (ITB).

Ini bukan hoax, tapi fakta yang tak terbantahkan. Izzan, demikian bocah itu disapa, sudah diterima di Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (MIPA) di kampus yang dulunya jadi almamater Presiden Soekarno tersebut.

Anak kedua dari pasangan Yanti Herawati dan Mursid Wijanarko ini memang luar biasa kemampuan akademiknya. Padahal dari kecil, dia tak seperti anak kebanyakan. Izzan malah tidak bersekolah formal seperti teman-temannya.

Ketika teman sebayanya masuk sekolah dasar, dia justru mendapatkan pendidikan bersama orangtuanya. Izzan baru mendapatkan ijasah Paket A selevel pendidikan SD diperoleh di usia 8 tahun. Izzan baru bisa ikut ujian masuk perguruan tinggi negeri setelah mengantongi ijasah Paket C yang diperoleh sejak tahun 2017. Luar biasa bukan?

Keenceran otak Izzan sudah terlihat sejak dini. Saat menginjak usia tiga tahun, dia sudah ‘akrab’ dengan fisikawan dan matematikawan dunia lewat buku-buku yang dibacanya.

Izzan bersama kedua orangtua (dok pribadi/facebook)

Kedua orangtuanya menyadari sang buah hati punya bakat khusus setelah Izzan gagal naik kelas dari taman kanak-kanak. Dari situ, sang ibunda memutuskan untuk menjadi guru privat Izzan di rumah.

Semua bahan pengajaran disesuaikan dengan keinginan Izzan. Mulai mencarikan bahan bacaan, bermain, termasuk urusan catur yang menjadi kegemaran Izzan.

Tahun demi tahun berlalu. Begitu Izzan menginjak usia 6 tahun, mulailah kejeniusannya menonjol. Dia sering kali bergelut dengan teori-teori fisika. Misalnya saja membuktikan hukum gravitasi dalam rutinitas hariannya.

Dari situ sudah bisa dibayangkan, Izzan anak yang kreatif. Hampir tak bisa diam. Bahkan sering kali rasa penasarannya membuat orangtua kewalahan. Dia begitu sangat ceriwis saat bertanya tentang benda-benda angkasa.

Sang ibunda baru paham apa yang terjadi dengan Izzan setelah berkonsultasi dengan dokter. Menurut diagnosa dokter, Izzan mengalami Autism Spectrum Disorder (ASD) atau gangguan pada perkembangan syarafnya. Gangguan itu berefek pada kognitifnya sehingga kemampuan IQ-nya melejit.

Mengetahui itu, ibunda berinisiatif memberi pengetahuan lebih kepada Izzan. Dengan penuh kesabaran, ibunda mendampingi Izzan belajar matematika. Tak butuh lama bagi Izzan untuk menguasai segudang rumus matematika yang biasanya menjadi momok anak-anak SMA.
Menurut pengakuan ibunda, Izzan sanggup menyelesaikan pelajaran matematika dasar hingga pelajaran siswa SMA dalam tempo setahun. Itu pun bukan perkara yang mudah bagi si ibunda. Keingintahuan yang tinggi dari Izzan seringkali membuatnya kerepotan.

Rasa penasaran Izzan terhadap astronomi, fisika, sampai hukum-hukum alam membuat ibunda harus pontang-panting mencari jawaban. Lewat jaringan pertemanan, Yanti mencari semua jawaban itu.

Misalnya melalui temannya yang jebolan astronomi, Yanti minta penjelasan atas pertanyaan Izzan seputar benda angkasa. Bahkan Yanti juga mesti rutin ‘berguru’ kepada dosen ITB demi rasa ingin tahu anaknya.

Dari sinilah akhirnya Yanti menerima masukan dari dosen ITB agar Izzan ikut ujian masuk perguruan tinggi. Masukan itu diharapkan menjadi solusi agar bakat unik Izzan dapat terasah.

Meski terdengar musykil, Yanti ikuti anjuran itu. Mulailah Izzan dituntun agar mendapatkan ijasah pendidikan formal agar bisa menjadi peserta ujian tes masuk perguruan tinggi.

Tahun 2016, Izzan ikut tes masuk ITB. Tapi saat itu dinyatakan tak lolos. Padahal tes IPA seperti matematika, fisika, kimia, dan biologi bukan hal yang sulit. Tapi dia dinilai kurang di bidang bahasa Indonesia.

Kekurangan ini yang coba Yanti tambal. Dengan persiapan yang pendek, tepatnya sekitar sebulan, Izzan mencoba lagi ikuti tes masuk ITB. Dan, semua upayanya itu berhasil.

Izzan dinyatakan lolos. Hebatnya lagi, Izzan menjadi mahasiswa termuda yang pernah masuk di ITB. Di usia yang demikian belia, dia bakal berkutat dengan rumus-rumus matematika yang lebih kompleks.

Tapi itu bukan hal yang besar bagi Izzan. Selama ada kemauan, jalan selalu dibukakan. Kisah Izzan membuktikan tak ada yang tak mungkin di dunia ini. Dan tak lupa peran sang ibunda. Ketelatenan sang ibunda terhadap ‘kelebihan’ buah hatinya bisa memberikan energi baik kepada Izzan.