Barter Sampah Jadi Duit, Cuma di Kampus Negeri Ini yang Terapkan Aturan Itu

By 30 August 2017Umum

PILIH dikumpulkan lalu ditukar dengan rupiah atau buang sembarangan kena denda Rp 2.000? Pilihan itu berlaku di kampus Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya.

Baru-baru ini, kampus di Ibu Kota Jawa Timur ini menerapkan program Bank Sampah yang dikelola Departemen Manajemen Bisnis ITS. Program ini memungkinkan mahasiswanya menukarkan sampah dengan lembaran rupiah.

Barter sampah dengan rupiah tersebut sebagai bagian dari semangat ITS melabelkan diri menjadi Smart Eco Campus. "Prinsip Smart Eco Campus sendiri adalah efisiensi. Untuk itu sebisa mungkin kita harus meminimalisir limbah yang dihasilkan. Kalau bisa dimanfaatkan, kenapa harus dibuang?" kata Kepala Departemen MB ITS Imam Baihaqi seperti dikutip dari laman ITS.

Program yang kali pertama di kampus Tanah Air ini bekerja sama dengan LSM terkait. Di samping mengejar status Smart Eco Campus, program tersebut juga merangsang jiwa kewirausahaan mahasiswa.

"Bank Sampah MB adalah contoh nyata bahwa bisnis bisa dimulai dari hal apa saja termasuk barang yang biasanya dibuang begitu saja," timpal Penanggung Jawab Bank Sampah, Berto Mulia.

Cara kerjanya sederhana kok. Setiap angkatan akan memiliki dua kantong sampah yang hasil penjualannya akan diberikan penuh pada angkatan. "Selama dua minggu kedepan hanya ada dua kantong, satu untuk sampah plastik dan satu untuk sampah kertas. Selanjutnya akan dibagi untuk tiap angkatan," urainya.

Nantinya tiap sampah yang dikumpulkan akan ditimbang tiap pekan. Kemudian hasil timbangan itu akan ditukarkan dengan sejumlah uang. Proses penentuan ‘harga’ sampah itu diserahkan ke Laboratorium Entrepreneur and Small Medium Enterprises (ESME) Manajemen Bisnis ITS.

Lantaran sudah ada iming-iming uang dari hasil pengumpulan sampah, di saat bersamaan juga berlaku aturan tilang bagi mahasiswa yang kedapatan buang sampah sembarangan. Tiap pelanggaran bakal didenda Rp 2.000.

Berto menjelaskan akan melakukan pemantauan terhadap gerak-gerik mahasiswa lewat kamera pengawas atau pun secara langsung.

Aturan main baru seputar sampah ini direspons positif mahasiswa. Misalnya saja Rico Paulus Sibeua yang asal Semarang. Dia merasa hepi karena kertas yang tak terpakai maupun botol-botol plastik ternyata ada harganya di kampus.