Beralih ke Gas Bumi Bikin Hati Warga Kampung Lontong Jauh dari Rasa Khawatir

By 5 June 2017Umum

SECARA bertahap, mulai banyak kalangan yang menikmati gas bumi PT Perusahaan Gas Negara (PGN). Mulai dari kalangan rumah tangga, industri kecil sampai besar. Ini tentu menjadi kabar baik.

Cerita terbaru datang warga Kampung Lontong di Surabaya telah teraliri pipa gas negara (PGN). Bagi mereka, kehadiran gas bumi yang pemanfaatannya baru berjalan dan diresmikan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Ignasius Jonan beberapa waktu lalu di Surabaya merupakan berkah tersendiri.

Maklumlah, warga di pemukiman padat tersebut kebanyakan menekuni usaha kuliner pembuatan lontong. Jadi sangat wajar kawasan yang berada dalam wilayah Kelurahan Krajan, Sawahan, Surabaya itu dijuluki Kampung Lontong.

Warga membuktikan sendiri betapa gas bumi punya lebih banyak kelebihan ketimbang sumber energi lainnya. Seperti yang diakui Marjoko, warga Banyu Urip Lor IX/20.

"Untuk usaha membuat lontong saya per hari mencapai 1.500 lontong selama memakai kompor LPG, tapi setelah menggunakan gas alam ini per harinya bisa sampai 2.000 lontong yang saya pasarkan di sekitar Pasar Manyar, Surabaya, dengan harga Rp 700, " kata Marjoko seperti dikutip dari Liputan6.com.

Pengusaha lontong di Surabaya merasakan manfaat gas bumi (Kompas.com)

Hal yang sama juga dialami Sri Utami. Warga Banyu Urip ini mengakui pemanfaatkan gas bumi membuat usaha lontongnya mengalami kemajuan pesat.

Dia menuturkan rumahnya telah teraliri pipa gas negara sepanjang Sembilan meter. "Saya usaha bikin lontong ini sudah 10 tahun lebih dan selama berjalan dua bulan hasilnya agak jauh sampai sehari bisa hasil 1.600 lontong,” terang Sri Utami.

Lebih jauh dia membandingkan saat menggunakan gas elpiji tiga kilogram yang hanya memberikan hasil separuhnya saja. ”Saya pasarkan ke Pasar Mangga Dua (Wonokromo)," ujar Sri Utami.

Tak hanya memasak saja, Sri Utami juga memanfaatkan gas bumi untuk kebutuhan harian di dapur. "Untuk usaha bikin lontong saya pakai Gas Alam, kalau sehari hari untuk masak juga pakai gas alam ini, Mas. Meskipun ada klasifikasi yang membedakan antara rumah yang digunakan sebagai usaha dan untuk rumahan biasa saya tetap pakai Gas Alam," paparnya.

Ibu tiga anak ini menepis anggapan penggunaan pipa gas negara lebih rumit ketimbang elpiji. Satu hal lagi, penggunaan gas bumi juga bikin hati tenang karena tak perlu khawatir kehabisan gas.

"Pakai gas alam itu enggak khawatir jika sewaktu masak lontong tiba-tiba habis gasnya, terpaksa jauh belinya dan pemesan kadang pernah komplain dengan keterlambatan pengiriman lontong," kata Sri Utami.

Berkah dari gas PGN ini sudah mereka nikmati sejak tahun 2013. Gas bumi terbukti mampu menghemat sampai 50 persen biaya produksi penggunaan gas.

Kalkulasinya dicontohkan pengusaha lontong lainnya, Ari Siswanto. Saat menggunakan gas ‘melon’, total duit yang dihabiskan untuk gas saja sampai Rp 70 ribu. Praktis dalam sebulan, Ari mesti menyisihkan Rp 2,1 juta untuk pembelian gas elpiji.

Lain halnya saat rumahnya terpasang pipa gas negara. Ari hanya perlu membayar antara Rp 800-900 ribu per bulan. "Paling mentok Rp 1 juta untuk kebutuhan gas," katanya seperti dikutip dari kompas.com.