Bila Semua Kompak Pakai CNG, Indonesia Tak Perlu Lagi Impor LPG

By 29 November 2017Umum

TAK lama lagi, gas bumi yang dikemas dalam tabung atau Compressed Natural Gas (CNG) bakal mudah ditemui. PT Perusahaan Gas Negara (Persero) Tbk (PGN) memang sengaja memperbanyak sumber energi baik itu agar mudah didapatkan pelanggan komersial maupun industri kecil menengah (UKM).

Terlebih lagi, Direktur Utama PGN Jobi Triananda Hasjim menegaskan harga CNG yang dipasarkan PGN bakal sangat kompetitif dibanding LPG. ”Kita sekarang prioritaskan yang mengonsumsi terbesar," terangnya seperti dikutip dari detik.com.

Pasokan CNG yang lebih banyak di pasaran tak hanya menguntungkan kalangan komersial maupun industri saja, tapi juga bermanfaat terhadap keuangan negara.

Bagaimana tidak, impor LPG bakal menurun karena sudah banyak yang beralih ke CNG. Ujungnya, devisa negara pun menjadi aman karena tak tergerus. ”LPG sebagian kita impor. Sedangkan CNG itu produk dalam negeri," ucap Jobi.

Apa yang disampaikan Jobi didukung dengan data sahih. Sebut saja tahun ini Indonesia sudah mengimpor 7 juta ton LPG untuk kebutuhan dalam negeri. Angka itu sebanding dengan 70 persen kebutuhan LPG di tahun ini.

Lantaran impor itulah, maka harga LPG cenderung lebih mahal ketimbang bahan bakar gas bumi. Lain halnya CNG yang sumbernya diambil dari gas dalam negeri, praktis tak perlu impor sehingga membuat harganya sangat kompetitif.

Pebisnis laundry merasakan manfaat CNG

"CNG itu kan yang natural gas yang dikompres kalau LPG kan likuid. Mungkin LPG mahal karena rantainya cukup jauh dan gas di Indonesia enggak semuanya ada fraksi beratnya. Sehingga tidak semua gas kita bisa dijadikan LPG. Di Indonesia yang banyak metannya," jelas Jobi.

Dia menambahkan sumber LPG di Indonesia kemungkinan berasal dari Timur Tengah. Terdapat proses cukup panjang untuk membawa LPG tersebut ke Indonesia. Mulai dari proses produksi di sana dan dari sini dibawa pakai kapal besar.

Prosesnya tak berhenti sampai di situ. LPG itu lantas dipindahkan ke kapal kecil dan kemudian masuk ke SPBE. Beda dengan CNG yang proses distribusinya sangat pendek. ”Sedangkan CNG, sudah terhubung dengan pipa tabung yang ada, diisi di situ lalu distribusi," urai Jobi.

Kelebihan CNG dibanding LPG ini sudah diakui Derin, pemilik usaha Laundry Bogor. Sebelum beralih ke CNG, dia mengandalkan LPG sebagai sumber penggerak roda bisnisnya.

Baca juga: Wahai Pengguna Elpiji, Siap-siap Move On ke CNG

Faktor harga yang fluktuatif dan pasokan yang sering kali seret membuat Derin mantap menggunakan CNG yang berlabel GasLink.

“LPG kan ukurannya kecil, jadi harus gonta ganti. Kalau abis kadang enggak ketahuan, sudah muter setengah jam ternyata abis gasnya. Jadi, kan dryer enggak dingin. Belum ngangkat-ngangkatnya berat. Kalau CNG kayak plug and play saja, karena central jadi karyawan sudah tinggal pakai saja, enggak usah ngangkat-ngangkat,” bebernya seperti dikutip dari Sindonews.com.

Di samping itu, CNG juga membuat Derin tersenyum lebar. Keputusannya beralih ke CNG membuat koceknya makin tebal karena ongkos operasionalnya dapat ditekan hingga 13 persen atau Rp 4 juta dibanding mengandalkan LPG.