Biogas Jadi Sumber Energi Eco-Masjid di Indonesia

By 27 December 2017Teknologi Baik

FUNGSI masjid di Indonesia kini meluas. Bukan sekadar tempat ibadah belaka, tapi menjadi pusat penyebaran gerakan dan edukasi go green. Tak tanggung-tanggung, sekitar 1.000 masjid di Tanah Air akan mengusung predikat eco-mosque hingga tahun 2020.

Ini artinya, seribuan masjid itu akan mengadopsi konsep penggunaan energi yang ramah lingkungan. Pelan tapi pasti, sumber energi eco-masjid akan bergeser pada pemanfaatan tenaga surya dan biogas sebagai pengganti bahan bakar fosil.

Wakil Presiden Jusuf Kalla yang langsung meresmikan program eco-mosque atau masjid berkelanjutan saat membuka Muktamar Dewan Masjid Indonesia VIII di Asrama Pondok Gede, beberapa waktu lalu.

Dalam keterangan tertulis, Jusuf Kalla berharap program ini dapat membuat masjid mempunyai kepedulian terhadap hubungan timbal balik antarmakhluk hidup dan lingkungannya untuk penghidupan berkelanjutan.

Wapres juga menilai krisis lingkungan hidup berangkat dari cara pandang manusia terhadap alam sebagai obyek untk dimanfaatkan semata. Bukan sebagai obyek yang perlu dipelihara untuk kelangsungan kehidupan manusia.

”Aktivitas manusia yang tidak ramah lingkungan tersebut berdampak langsung pada lingkungan dan kehidupan manusia itu sendiri. Sumber daya alam penting yang tak terbarukan seperti air dan energi fosil semakin cepat terkuras,” papar Jusuf Kalla.

Masjid di Dubai menggunakan solar panel sebagai sumber energi. (foto:bbc)

Latar belakang inilah yang mendorong Dewan Masjid Indonesia memperluas fungsi masjid. Bangunan yang banyak tersebar di Tanah Air itu tak semata-mata dijadikan sarana ibadah ritual, tapi juga menjadi sarana sekaligus kekuatan dalam membangun nilai kebaikan dan pembaharuan kehidupan umat di masa depan.

Dalam aplikasinya, program eco-mosque ini akan mengubah masjid untuk menjadi sumber energi yang dapat diperbaharui. Di samping itu juga bertanggung jawab mengelola kebutuhan air. Berikutnya, masjid turut pula berperan mengurangi dan mendaur ulang sampah. Bahkan, ikut berpartisipasi pula menyebarluaskan informasi seputar lingkungan.

Seperti dikutip dari straittimes.com, Koordinator Lingkungan dan Manajemen Bencana Aisyiyah, Hening Parlan, menjelaskan gagasn eco-mosque berangkat dari pertanyaan bagaimana menjadikan masjid sebagai pusat lingkungan dan edukasi dalam sebuah komunitas.

Atas dasar itu, gagasan eco-masjid akan membuat masjid memiliki pasokan air bersih sampai penggunaan sumber energi yang ramah lingkungan seperti tenaga surya dan biogas.

Pastinya, konsep eco-mosque sudah diterapkan di belahan negara lain. Sebut saja Dubai yang memiliki masjid dengan standar US Green Building Council. Begitu pun di Malaysia, Inggris, Maroko, sampai Amerika Serikat.

Tapi itu skalanya masih kecil. Bandingkan dengan Indonesia yang menargetkan seribuan masjid sudah berlabel eco-masjid dalam kurun dua tahun lagi dari sekarang.