Bisa Kok Nikmati Bersihnya Langit Jakarta Enggak Cuma Pas Lebaran Saja

By 24 October 2017Umum

INGAT foto yang di atas? Yup, itu foto perbandingan langit Jakarta sebelum dan sesudah lebaran. Foto yang diunggah akun Amadeus Pribowo di Facebook pada 27 Juni 2017 sontak menjadi viral di dunia maya.

Lewat foto itu, tergambar jelas perubahan langit Jakarta. Ketika sebelum lebaran, langit terlihat ‘kusam dan polutif’. Bandingkan sesudah lebaran yang bertepatan warganya tengah mudik, langit Jakarta begitu cerah dan ‘super bersih’.

"This is what happens to the sky of Jakarta before, during, and after Lebaran when most of the city's inhabitants are on vacation. (Ini apa yang terjadi di langit Jakarta sebelum, saat dan sesudah Lebaran ketika banyak penduduk tengah berlibur)," tulis Amadeus di akunnya.

Bersihnya langit Jakarta seperti foto itu sudah pasti menjadi idaman. Dan, jepretan foto Amadeus itu membuktikan sekali lagi, menghadirkan udara bersih bebas polusi di Ibu Kota ternyata bisa kok.

Sudah menjadi pengetahuan umum, sumber polusi terbesar udara di Jakarta berasal dari kendaraan. Bayangkan saja, data dari Dinas Perhubungan DKI yang dikutip Polda Metro Jaya menyebutkan tiap harinya 22 juta kendaraan lalu lalang di Ibu Kota. Bisa dibayangkan tingkat polutifnya!

Langit Jakarta Bersih Bukan Mimpi

Ada cara sederhana membuat langit Jakarta bersih sepanjang tahun. Semua jutaan mobil yang lalu lalang itu berhenti minum BBM (bahan bakar minyak). Sebagai gantinya, mereka mesti kompak gunakan BBG (bahan bakar gas). Sudah terbukti, BBG menghasilan emisi gas buang jauh lebih rendah ketimbang BBM. Bahkan secara kalkulasi, emisi gas buang BBG lebih rendah 20 persen dari BBM.

Fakta itu tersaji lewat hasil studi di Australia, negara dengan penggunaan BBG terbesar di dunia. Data-data yang terungkap menunjukkan kendaraan 4 silinder dengan konsumsi BBM 12 liter/100 km bila menggunakan BBG bisa menekan emisi CO2 sampai 420 kg/tahun.

Sedangkan kendaraan 6 silinder dengan konsumsi BBM 15 liter/100 km, emisi CO2 bisa dikurangi sampai 525 kg/tahun. Lain halnya kendaraan 8 silinder dengan konsumsi BBM 20 liter/100 km, maka penggunaan BBG dapat mengurangi CO2 sampai 700 kg/tahun.

Coba bayangkan jika mobil pribadi dengan 4 silinder diasumsikan tiap tahunnya punya jarak tempuh 10 ribu km dengan konsumsi rata-rata 12 liter/100 km, maka kalau beralih ke BBG dapat mengurangi emisi sampai 420 kg/tahun.

Itu baru satu mobil. Sekarang asumsikan saja kalau ada 10 juta kiloliter BBM yang batal digunakan orang Jakarta lantaran semua mobil pakai BBG, maka potensi pengurangan emisi CO2 bisa sampai 3.5 juta ton/tahun.

Tuh, bila warga Jakarta kompak pakai BBG, praktis langit bersih di Ibu Kota bisa dinikmati sepanjang tahun. Bukan cuma pas lebaran saja!