Bukti Masak Pakai Kompor Berbahan Bakar Air bukan Hoax

Begitu ada kelangkaan elpiji atau harganya yang melambung tinggi, ibu-ibu di kampung kecil di Subang, Jawa Barat, ini bakal anteng-anteng saja. Semua berkat jasa seorang pemuda bernama Dede Miftahul Anwar. Dia menawarkan solusi bagi ibu-ibu untuk memasak menggunakan kompor berbahan air.

Ini bukan hoax tapi fakta. Pemuda sederhana berstatus mahasiswa Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung itu menciptakan kompor hidrogen bahan bakar air.

Dede telah memberikan jalan keluar bagi warga Kampung Kerajan, Desa Cihambulu, Kabupaten Subang ini yang sulit mendapatkan gas elpiji. Faktor alam dan kondisi geografis yang menjadi masalah mengapa truk elpiji sulit mencapai desanya.

Menuju Kampung Kerajan bukan perkara mudah. Satu-satunya alat transportasi yang bisa diandalkan hanyalah sepeda motor. Itu pun mesti membelah sawah, hutan karet, dan melintasi jembatan kayu yang di bawahnya sungai dengan arus yang deras. Situasi ini yang membuat Dede putar otak. Mumpung masih menuntut ilmu di Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan, dia pun meneliti potensi air sebagai bahan bakar alternatif untuk memasak.

Kenapa air? Ya karena di kampungnya air sangat melimpah. Dede pun mulai bereksperimen dengan air.

Ketekunannya membuahkan hasil. Lewat riset yang intens, dia menemukan cara sederhana mengurai hidrogen dan oksigen di air dengan senyawa kimia tertentu. Gas hidrogen inilah yang dimanfaatkan sebagai bahan bakar. Temuan ini mendapat pengakuan setelah dilombakan di ajang Wira Usaha Muda Mandiri bidang usaha teknologi non digital. Dede menyabet juara pertama atas inovasinya menemukan sumber alternatif untuk memasak.

Agar temuannya tak sekadar jadi pajangan saja, dia pun mendirikan perusahaan bernama CV Energon Teknologi. Tujuannya agar temuan kompor berbahan bakar air bisa dimanfaatkan orang lain.

Dede memproduksi kompor berikut hidrogennya. Banderol kompornya terbilang terjangkau di kisaran Rp 300 ribu. Sedangkan hidrogennya hanya Rp 10 ribu. Lebih murah Rp 5.000 dari gas elpiji yang dijual di angka Rp 15 ribu.

Agar memudahkan warganya mendapatkan hidrogen, Dede pun mendirikan Saung Pengisian Gas Hidrogen (SPGH). Bisa jadi ini satu-satunya ‘SPBU’ gas hidrogen di Indonesia. Temuan Dede ini pastinya menjadi jawaban bila terjadi krisis gas elpiji di pasaran. Keuntungan lainnya, dari segi biaya jelas lebih hemat ketimbang gas elpiji. Terakhir, kompor buatan Dede ini energinya berasal dari sumber terbarukan.

Tulis Komentar