Cerita Mantan Pilot yang ‘Terbangkan’ Mimpi Ratusan Anak Kurang Beruntung

NEGERI ini punya kisah seorang laki-laki yang memiliki ratusan anak asuh. Sosok yang dimaksud adalah Budi Soehardi. Mengikuti kiprah mantan pilot ini dipastikan membuat siapa saja akan tergetar hatinya.

Jelas tergetar mengingat Budi menjadi bapak asuh bagi raturan anak di Panti Asuhan (PA) Roslin yang diinisiasi bersama sang istri. Dedikasinya yang luar biasa membuatnya dikenal secara global setelah masuk daftar CNN Heroes 2009.

Padahal dengan profesinya sebagai pilot di dua maskapai besar di dunia, Budi sangat dekat dengan gaya hidup glamor. Hidup mewah dengan mudah didapatkannya. Sebaliknya, dia justru meninggal itu semua. Bersama sang istri dan tiga anaknya, Budi memilih menjadi bagian dari keluarga anak-anak yang kurang beruntung.

Menetap di Penfui Timur, Kupang, menjadi tekad keluarga Budi. Dengan uang dari kantongnya, dia mendirikan Panti Asuhan Roslin sebagai rumah tampung bagi anak-anak yang sebagian besar adalah pengungsi Timur Timor. Pada awalnya, dia menyediakan tempat layak bagi 48 anak terlantar.

Puluhan anak itu dirawat dengan penuh kasih sayang layaknya anak kandung. Untuk hidup sehari-hari, Budi mengandalkan hasil lahan yang dimiliknya. Bersama keluarga kecilnya, Budi memberikan kehangatan sosok orangtua bagi anak kurang beruntung itu.

Captain Budi Soehardi (IST)

Namun bukan berarti niat baik dan tulus Budi itu mendapat apresiasi. Di awal-awal melangkah, justru muncul tudingan bila dia bagian dari sindikat penjualan anak. Sebagian orang mencurigai aktivitasnya. Meski begitu, Budi jalan terus. ”Saya dan istri terus menjalankan panti asuhan itu tanpa memikirkan omongan orang,” ucapnya seperti dikutip dari Jawa Pos.

Pelan tapi pasti, panti asuhan itu makin ramai. Jumlah anak asuhnya terus bertambah. Sekarang ini ada sekitar 150 anak. Hak-hak mereka berusaha dipulihkan Budi. Hak atas kasih sayang, hak atas pendidikan, hak atas hidup yang layak, hak rasa aman, sampai hak bermain.

Ketika masih aktif sebagai pilot, Budi tak kesulitan membiayai seluruh kebutuhan panti. Sebagian dana dari kantong pribadinya itu dialokasikan untuk pembangunan dan perluasan panti. Hingga pada akhirnya bisa mendirikan sekolah sendiri.

Begitu sudah pensiun, Budi merasa tak berat untuk melanjutkan pengabdiannya. Meski tak lagi mendapat pendapatan tetap dan kebutuhan panti makin besar, tapi dia merasa bertambah bebannya.

“Ajaib.” Demikian Budi mengungkapannya. Padahal bila dihitung secara matematis, tanpa pendapatan tetap seharusnya cash flow panti bakal bermasalah. Nyatanya tidak. Belakangan banyak pihak yang mengulurkan tangan tanpa diminta.

Pengabdian Budi pun berbalas manis. Beberapa anak pantinya kini sudah menjadi ‘orang.’ Mereka sudah lulus sekolah. Ada yang menjadi dokter, jagoan komputer, hingga profesi lainnya. Ini membuktikan hukum alam. Energi baik yang diberikan Budi akan selalu berbuah kebaikan berikutnya.

Budi membuktikan pada dunia. Yang dicarinya bukanlah apresiasi, bukan pula award, tapi sangat sederhana. Tanpa perlu gembar-gembor, Budi telah berbuat nyata mengangkat anak-anak yang awalnya menyerah dengan keadaan menjadi sosok yang membanggakan.