Daftar Kisah Penyebar Virus Kutu Buku dengan Tunggangan yang Unik

BAGI sebagian orang di negeri ini, membaca buku masih sebuah kemewahan. Bukan karena minat baca yang rendah, melainkan akses untuk mendapatkan buku-buku itu tidaklah mudah.

Beruntung, Indonesia punya sosok-sosok yang peduli terhadap situasi ini. Dengan inisiatif sendiri, mereka membuat perpustakaan keliling sehingga membaca buku bukanlah barang mewah lagi.

Yup, sosok-sosok ini yang menyebarkan energi baik kepada negeri ini. Di tengah keterbatasan, tapi mereka semangat menularkan virus membaca ke tengah-tengah masyakarat.

Hal yang menarik, perpustakaan keliling mereka itu sangat unik. Bahkan mungkin hanya bisa ditemui di Indonesia saja. Mau tahu keunikan perpustakaan keliling ini?

Bemo

Menyebut Bemo mungkin kepikiran Dono Warkop. Ya, komedian legendaris ini sering diidentikkan dengan angkutan beroda tiga. Tapi bukan itu yang mau dibahas, melainkan bemo milik Sutino Hadi.

Pria yang sering disapa Kinong itu menyulap bemo ungu miliknya menjadi perpustakan keliling. Seusai ‘narik’, sore harinya dia rutin menjelajah ke perkampungan.

Dengan ratusan buku yang diangkutnya, dia menyebarkan virus membaca ke anak-anak kampung. Inisiatifnya itu mendapat apresiasi dari berbagai pihak, termasuk Presiden Joko Widodo. Kinong diundang ke Istana Presiden dalam perayaan Pesta Pendidikan awal Mei ini.

Koleksi bukunya makin bertambah sejak sejumlah pihak turun tangan berpartisipasi. Setiap sepekan sekali, Kinong membawa peralatan layar tancap untuk menghibur anak-anak dan remaja.

Angkot

Angkot ber-AC sudah biasa. Full musik sudah umum. Tapi angkot yang ada fasilitas bukunya, bisa ditemukan di Malang. Angkot milik Sugiarto lebih tepatnya.

Pria 58 tahun itu menyediakan aneka buku di dalam angkotnya. Mulai dari buku motivasi, komik, cerpen, dan lain-lain. Semua buku itu dijejer rapi di belakang angkot.

Penumpang asyik membaca buku di angkot yang jadi perpustakaan keliling di Malang (benarnews.org

Penumpang dipersilakan membaca semua buku itu sepanjang perjalanan di angkot jurusan Terminal Arjosari ke Dinoyo dan berakhir di Terminal Landung sari itu. Dan, tentu saja gratis alias tak ada biaya tambahan.

Malang bujan satu-satunya kota yang punya angkot dengan fasilitas perpustakaan keliling. Bandung, Jawa Barat, pun juga ada. Kali ini adalah angkot yang dikelola pasangan suami istri, Pian dan Elis.

Pian sehari-harinya adalah sopir angkot dan istrinya sebagai guru honorer. Pian merespons positif ide istrinya agar angkot yang dibawanya dilengkapi buku-buku.

Alhasil, di bagian belakang interior angkotnya dimodifikasi sedemikian rupa menjadi rak buku. Kehadiran buku di angkot membuat hepi penumpang. Banyak yang menghabiskan waktu selama perjalanan dengan membaca koleksi buku mereka.

Kuda

Ridwan Sururi adalah sosok yang mencetuskan ide perpustakaan kelilling dengan kuda. Dua kali dalam sepekan, pria ini menuruni lereng Gunung Slamet, Jawa Tengah, dengan kuda yang dinamai Germanis.

Bersama dengan kuda pemberian warga Jerman itu, Ridwan melakoni peran sebagai ‘pembuka jendela dunia’ ke pemukiman yang dilintasinya. Kuda kesayangannya itu mampu membawa 100 buku sekali jalan.

Ridwan Sururi bersama kuda pustaka bernama Germanis (antaraphoto)

Ridwan sudah melakoni profesi mulianya itu sejak tahun 2015 hingga sekarang. Bahkan dia sama sekali tak mengutip dari semua jerih payahnya. Melihat orang lain membaca buku-bukunya sudah merupakan kepuasan tersendiri.

Motor Pustaka

Sugeng Haryono enggan berpangku tangan melihat minimnya akses anak-anak di pelosok Lampung terhadap buku bacaan. Sarjana Ilmu Perpustakaan itu langsung bergerak.

Dia membeli motor bekas Honda GL Max dan memodifikasinya sebagai perpustakaan keliling. Selanjutnya, Sugeng pun mulai berkelana hingga sejauh 10 kilometer setiap harinya membawa buku bacaan untuk anak-anak.

Sugeng Haryono bersama motornya yang disulap jadi perpustakaan beroda (pojoksamber.com)

Sama sekali tidak ada tujuan ekonomi dari kegiatannya itu. Sugeng serius melakoninya agar anak-anak mudah mendapatkan akses terhadap buku bacaan.