Kiprah Menteri Susi yang Selalu Undang Decak Kagum Dunia

MENTERI Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti lagi-lagi mendapat sorotan dunia. Kiprah wanita bersuara ‘jantan’ ini dalam melindungi sumber daya laut Indonesia mendapat apresiasi warga dunia.

Baru-baru ini, pemilik maskapai Susi Air tersebut meraih penghargaan bergengsi di bidang maritime dunia. Bu Susi, sapaan akrabnya, berhak menerima Peter Benchlet Ocean Awards di Washington DC, Amerika Serikat. Penghargaan itu sebagai apresiasi atas kebijakan dan visinya dalam pembangunan ekonomi dan konservasi laut di Tanah Air.

Tak sembarangan individu bisa mendapat Peter Benchley Ocean Awards. Penghargaan ini hanya disematkan kepada tokoh yang terbukti nyata dan dinilai berpengaruh besar terhadap penyelamatan laut.

Segambreng tokoh pernah mendapat Peter Benchley Ocean Awards. Mereka berasal dari latar belakang yang beragam. Mulai dari presiden, menteri, aktivis, penyelam, jurnalis, hingga selebriti.

Penerima Peter Benchley Ocean Awards 2017 (peterbenchleyocean.org)

Ini bukan kali pertama Bu Susi mendapat penghargaan atas dedikasinya di sektor maritim. Sebelumnya, dia juga menerima penghargaan kelas dunia dari WWF International di ajang Our Ocean Conference pada September tahun lalu.

Bertempat di Ibu Kota Amerika, pengusaha asal Pangandaran itu menyandang label ‘Leaders for a Living Planet.’ Label itu sangat bergengsi lantaran Bu Susi masuk dalam jajaran lebih dari 100 orang individu yang mendapat penghargaan serupa.

Beberapa nama di antaranya Menteri Perikanan Norwegia, Perdana Menteri China, Sekjen PBB Kofi Anan, dan lain-lain.

Barisan penghargaan yang disematkan ke Bu Susi jelas membuat bangga. Kinerjanya dalam menjaga dan mengelola sumber daya laut di Indonesia mengundang decak kagum dunia.

Hal ini tentunya merupakan sesuatu yang membanggakan, melihat bahwa kinerjanya dalam dunia kelautan di Indonesia mendapat apresiasi yang luar biasa di mata dunia. Kiprahnya dalam memberantas illegal fishing dengan penenggelaman kapal sampai melindungi hutan bakau membuat dunia terkesima.

Meski dinilai sebagian pihak kontroversial, tapi semua keputusan Bu Susi yang berniat mengembalikan kejayaan maritime di Indonesia berbuah manis. Tangkapan nelayan makin banyak, frekuensi pencurian ikan menurun drastis, dan ekosistem laut terjaga.

Semua itu tidak asal klaim sepihak tapi didukung data-data yang valid. Misalnya saja cadangan ikan pada 2014 yang bisa ditangkap nelayan melejit hingga 9,9 juta ton dari sebelumnya hanya 6,5 juta ton.

Di saat bersamaan, penerimaan negara dari laut ikutan naik. Pada 2016 lalu, Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) sektor kelautan dan perikanan menembus Rp 360,86 miliar. Naik berkali-kali lipat dari tahun sebelumnya yang di angka Rp 177,49 miliar.

Kemudian data dari Kementerian Kelautan dan Perikanan (KPP) juga menunjukkan produksi perikanan tangkap mencapai 6,83 juta ton di tahun 2016 dengan nilai Rp 125,38 triliun. Bandingkan dengan tahun 2016 yang hanya 6,77 juta ton atau senilai Rp 122,4 triliun.

Kebijakan penenggelaman kapal pencuri ikan di Perairan Indonesia (djpsdkp.kkp.go.id)

Bu Susi mengakui kebijakannya selama ini selalu dianggap semata-mata mencari sensasi. Beruntung, Presiden Joko Widodo selalu berdiri di belakang Bu Susi untuk memberikan dukungan penuh.

“Tentu saja sensasi tentang saya yang ada di media adalah oh dia menenggelamkan lagi kapal-kapal nelayan asing, atau oh dia mengeluarkan kebijakan baru. Tetapi kebijakan itu dibuat bukan tanpa pemikiran mendalam dan target,” papar Bu Susi seusai menerima Peter Benchley Ocean Awards.

Peneliti Ekonomi Perikanan Universitas British Columbia Dr Rashid Sumaila menilai Bu Susi terbukti memikirkan laut di dunia. ”Hal ini sangat baik karena kita hanya punya satu laut di dunia,” katanya seperti dikutip dari VOA Indonesia.

Congrat Bu Susi!