Kisah Si Jenius dari Bumi Papua yang Gegerkan Jagad Fisika

"SAYA BALIK INDONESIA!" Itulah ikrar Septinus George Saa, si jenius dari Bumi Papua. Berderet titel di dunia akademis sudah disandang cowok kelahiran Manokwari pada 22 September 1986 ini.

Namanya mulai terangkat sejak memenangkan lomba First Step to Nobel Prize in Phycics pada 2004 mewakili Indonesia dalam usia 19 tahun. Juri dari 30 jawara fisika dari seluruh dunia dibuat kagum atas hasil buah pikirnya yang tertuang dalam makalah berjudul Infinite Triangle and Hexaginal Lattice Networks of Identical Resisto.

Temuannya itu sangat berharga karena memudahkan peneliti menghitung hambatan dari suatu rangkaian tak terhingga dari bentuk heksagonal atau segi enam.

Hebatnya lagi, rumus itu akhirnya dinamai ‘George Saa Formula’. Juri pun dibuat geleng-geleng kepala karena temuan cowok yang sejak kecil hidupnya nomanden itu adalah ‘makanan’ mahasiswa selevel master.

Kejeniusan George Saa terus diasah setelah mengambil tawaran beasiswa sarjana dalam bidang Aero Space Engineering di Florida, Amerika Serikat. Di kampus yang bertetanggaan dengan markas NASA itu, George Saa belajar dari A sampai Z seputar pesawat terbang dan roket.

Otaknya yang encer membuatnya mudah untuk masuk dalam daftar 40 mahasiswa yang lulus dari kampus itu. Padahal, ada 200 mahasiswa yang tercatat sebagai teman seangkatan George Saa.

Usai dari Amerika Serikat, dia tak mau buang waktu lagi meneruskan jenjang studi master ke Birmingham, Inggris, untuk mendalami bidang teknik material.

Dia punya alasan sendiri mengapa bidang itu ingin digelutinya. Alasannya karena sosok BJ Habibie. Gara-gara kiprah Presiden RI ketiga itu, George Saa tergila-gila dengan dunia dirgantara.

Sejak lama dia memendam keinginan mengintegrasikan kedirgantaraan dengan teknik mesin yang sudah digelutinya.

”Kalau tak bisa terbangkan pesawat, saya harus bisa bikin pesawat. Setidaknya memahami teknologi pesawat terbang.” Begitu tekad George Saa.

Septinus Georga Saa di depan kampus (BBC)

Tekad inilah yang membuat George Saa menggebu-gebu untuk kembali ke Tanah Air setelah studinya tuntas. Bahkan dia sudah menyiapkan rencana besar untuk Papua, daerah kelahirannya.

”Untuk Papua, di kampus-kampus, saya ingin menciptakan desaign center dengan small scale manufacturing capability. Tujuannya yakni product creation atau penciptaan produk berbasis teknologi yang sangat menguntungkan daerah dalam berbagai aspek seperti ekonomi dan bisnis,” paparnya seperti dikutip dari bbc.com.

Georga Saa memang mengagumkan. Terlahir dari keluarga sederhana dengan ayah yang mengabdi sebagai Kepala Dinas Kehutanan Teminabuhan, Sorong, George Saa membuktikan Indonesia gudangnya anak-anak jenius.

Di samping itu, George Saa juga terlahir di keluarga yang memegang tradisi akademisi. Ayahnya, Silas Saa, sukses lulus dari Sekolah Kehutanan Menengah Atas pada 1969. Jenjang pendidikan yang terbilang tinggi untuk orang Papua saat itu.

Kakak Georga Saa yang berjumlah empat orang juga mencatatkan prestasi akademik yang gemilang. Mereka tercatat sudah menyandang gelar sarjana, dokter, dan magister.

Dikisahkan sang ibunda, Mama Nelce Saa, putra bungsunya itu sering tidak masuk sekolah karena faktor biaya. Untuk ongkos transportasi pulang pergi ke sekolah saja sudah ngos-ngosan.

Untungnya, kendala itu tak membuat semangat Georga Saa kendur. Pemuda yang suka bermain basket ini tetap memasang target tinggi dalam hidupnya. ”Saya tertarik fisika sejak SMP. Tidak ada alasan khusus, saya tertarik karena suka belajar,” tukasnya dalam sebuah kesempatan.

Ternyata sederhana resepnya, yakni belajar. Haus akan ilmu yang menjadi modal George Saa menggegerkan jagad fisika karena berhasil menemukan rumus wahid dari seorang anak bau kencur dari Bumi Papua. (*)