Makin Makmur dan Terang Benderang Berkat Kotoran Sapi

By 6 June 2017Umum

BOLEH jadi, kotoran sapi yang dulunya dianggap menjijikkan justru berbalik mendatangkan keuntungan. Bukan sekadar dimanfaatkan sebagai pupuk kandang, tapi bisa menjadi sumber penerangan.

Dengan sedikit sentuhan teknologi sederhana, kotoran sapi dapat diolah menjadi energi baru yang dikenal dengan sebutan biogas. Biogas dari kotoran sapi itu diproduksi melalui proses fermentasi.

Kotoran yang sudah diendapkan beberapa waktu bakal mengeluarkan gas yang mengandung biomethan. Gas tersebut bersifat mudah terbakar sehingga dapat menjadi sumber energi.

Sudah banyak deretan kisah warga di berbagai pelosok negeri yang sukses memanfaatkan kotoran sapi sebagai sumber energi altenatif. Contohnya di Desa Sruni, Kecamatan Musuk, Boyolali, Jawa Tengah.

Sebagai daerah yang dikenal sebagai pemasok susu segar, kotoran sapi bukan hal yang sulit diperoleh warga setempat. Berlimpahnya limbah dari peternakan sapi itu yang kemudian dimanfaatkan sebagai sumber energi.

Alhasil, bukan sesuatu yang asing lagi melihat rumah-rumah warga Desa Sruni yang sudah dilengkapi instalasi pengolahan kotoran sapi untuk biogas. Bukan hanya segelintir warga saja tapi sudah ratusan rumah yang mengandalkan biogas.

“Potensi kotoran sapi di sini sangat berlimpah karena hampir setiap warga memiliki ternak sapi,” ungkap Ketua Kelompok Tani Agni Mandiri, Setyo, seperti dikutip dari TribunnewsSolo.com.

Ada alasan kuat mengapa warga desa setempat jatuh hati dengan biogas. Paling utama adalah lebih ekonomis. Menurut Teknisi Pembuatan Biogas Kelompok Tani Agni Mandiri Desa Sruni, Widiatmono, modal membuat instalasi biogas hanya Rp 5 juta dengan kapasitas tangki enam kubik.

Bahkan modal membuat instalasi biogas bisa ditekan hanya Rp 3,5 juta lantaran pembuatannya dilakukan secara gotong royong. Selain untuk memasak, banyak pula yang sudah bisa memanfaatkan biogas untuk lampu penerangan.

Caranya, biogas disalurkan ke lampu petromaks melalui selang berikut kerannya. Tentu saja ini bisa menekan ketergantungan terhadap listrik dari PLN.

Kisah serupa juga bisa ditemukan Di Haurngombong, Kecamatan Pamulihan, Kabupaten Sumedang, Jawa Barat. Warganya sudah mandiri berkat berkah kotoran sapi yang diubah menjadi listrik.

Petugas menyalakan lampu dari biogas (Antara)

Di desa itu, rata-rata satu generator sanggup memproduksi listrik hingga 500 watt. Daya yang cukup untuk menerangkan 10 lampu 40 watt selama enam jam penuh.

Praktis, biogas dari kotoran sapi ini bisa menghemat pengeluaran listrik di sebuah keluarga sampai Rp 50 ribu per bulannya. Bila dihitung setahun, maka penghematannya bisa Rp 600 ribu.

Itu baru penghematan pengeluaran listrik. Belum bila ditambah bila biogas itu digunakan untuk memasak. Bila pengeluaran untuk kebutuhan energi dapat ditekan, maka kesejahteraan warga pun bisa meningkat.

Warga di luar Pulau Jawa pun sudah mulai merintis biogas dari kotoran sapi. Sebut saja di Desa Bumi Asih, Penyipatan, Tanah Laut, Kalimantan Selatan. Daerah itu sudah ditetapkan pemerintah setempat sebagai desa mandiri energi.

Bahkan, Desa Bumi Asih juga diklasifikasikan sebagai daerah ramah lingkungan. Predikat itu disematkan lantaran sejumlah rumah warganya sudah mengaplikasikan biogas dari kotoran sapi.

Semoga makin banyak desa-desa lain di Indonesia yang menerapkannya!