Pakai Kantong Plastik Kevin Bakal Berkurang Dosanya

By 10 April 2017Kisah Inspiratif

BERUNTUNGLAH ada Kevin Kumala. Berkat temuan pria asal Bali ini, orang Indonesia bisa berkurang dosanya. Maksudnya, dosa terhadap anak cucu. Yup, temuan Kevin membuat kantong plastik atau kresek tak lagi menjadi musuh lingkungan.

Faktanya, kantong plastik selama ini menjadi sumber pencemaran. Pencemaran plastik di Indonesia sendiri terbilang kronis. Data yang dipublikasikan Sciene menyebutkan Indonesia menduduki rangking nomor dua setelah China sebagai negara penghasil sampah plastik.

Tentu bukan prestasi yang membanggakan. Nah, di sinilah Kevin berperan. Dia enggak mau berpangku tangan melihat kenyataan negeri indah ini berubah menjadi tumpukan bukit sampah plastik.

Aksi nyata Kevin diwujudkan dengan pendirian startup berlabel Aviani Eco untuk memproduksi plastik yang tetap kuat tapi mudah terurai. Dan yang terpenting lagi, ramah lingkungan.

Maka itu, dia memandang gerakan 3R: Reduce, Reuse, Recycle, tidaklah cukup. Perlu satu ‘R’ lagi yakni Replace. ”Yang mengkhawatirkan 3R itu tersimpan dalam bawah sadar. Ketika sibuk, kita tak bisa melakukan itu,” papar Kevin.

Setuju dengan Kevin. Lihat saja data di mana 1 triliun kantong plastik yang dibuang, hanya satu persen saja yang bisa didaur ulang. Utamanya karena faktor mahalnya biaya daur ulang.

Bisa dimakan

Ini kelebihan produk Kevin. Kantong plastinya tak sekadar ramah lingkungan saja tapi juga bisa dikonsumsi! Ini serius. Cowok lulusan biologi ini membuktikan produk buatannya yang kerap disebut bioplastik itu aman dimakan karena bahan bakunya terbuat dari akar singkong.

Dia pun mendemonstrasikan lewat video yang unggah ke YouTube. Dengan sengaja, Kevin mencelupkan produk kantong plastik ke dalam gelas air panas. Lantas diaduk beberapa saat, air di gelas yang awalnya bening berubah menjadi kehijauan. Tanpa ragu, Kevin menenggak air itu.

Kini bioplastik ala Kevin sudah diproduksi massal. Produknya sudah digunakan mulai dari Hotel Ritz Carlton sampai maskapai Garuda Indonesia.

Produk Kevin pun sudah mendapat ganjaran sertifikasi seperti dari Institut Pertanian Bogor (IPB) dan Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi. Prestasinya makin lengkap setelah mendapat pengakuan dari Oral Toxity Test.

Semua itu ternyata belum cukup. Kevin masih mengejar pengakuan lainnya. Yang terdekat adalah sertifikasi ASTM 1600. Dia harus membuktikan bioplastik besutannya bisa terurai di alam dalam tempo 180 hari.

Harus diakui, bioplastik yang terbuat dari akar singkong ini banderolnya masih tinggi. Selisihnya di rentang Rp 200-3000. Sedangkan produk lainnya seperti sedotan lebih mahal Rp 80.

Toh, semahal-mahalnya tetap enggak sampai menguras isi saku. Terlebih nilai itu enggak sebanding dengan masa depan negeri ini yang berharap bisa bebas dari sampah plastik.

Lagi pula, menggunakan produk Kevin sama saja menunjukkan cinta kepada produk dalam negeri. Kalau pun kepepet, kantong plastiknya pun bisa dimakan kok.

Tulis Komentar