Perempuan Indonesia yang Tebar Teknologi Hijau sampai Lembah Silikon

By 14 August 2017Kisah Inspiratif

SIAPA tak kenal Silicon Valley (Lembah Silikon). Sebuah lembah di daerah selatan San Francisco Bay Area, California Amerika Serikat. Di area seluas lebih kurang 4.800 kilometer persegi ini sederet raksasa teknologi dunia macam Facebook, Google, Yahoo!, dan Apple bermukim.

Namun, tak banyak orang tahu bahwa perkembangan teknologi di Silicon Valley tak bisa dilepaskan dari kiprah putra putri Indonesia. Sejumlah ahli teknologi asal Indonesia turut berkecimpung di berbagai perusahaan terkemuka yang menjadi penghuni pusat rujukan teknologi dunia tersebut.

Adalah Sonita Lontoh, wanita asal Indonesia yang sudah malang melintang di dunia teknologi. Vice President of Marketing Siemens ini dikenal dunia sebagai teknokrat dan ekonom yang banyak mendorong penggunaan teknologi hijau (green technology).

Sebelum berkarier di Siemens, wanita yang lahir dari pasangan ayah berdarah Minahasa dan ibu dari Minangkabau ini pernah berkiprah di berbagai perusahaan top dunia. Sonita pernah menjadi eksekutif di Trilliant, perusahaan teknologi di Silicon Valley.

Ia juga sempat mencicipi sebagai leader dari PG & E Corporation, sebuah perusahaan induk energi peraih Fortune 200 di San Francisco yang melayani lebih dari 20 juta pelanggan di di California. Jauh sebelumnya, Sonita juga pernah berkarir sebagai konsultan manajemen di Bain & Company dan menghabiskan beberapa tahun sebagai entrepreneur di bidang energi.

Kiprah jebolan Master of Engineering dari Institut Teknologi Massachusetts (MIT) ini tak diragukan lagi. Sonita bahkan tercatat sebagai mentor profesional untuk Program TechWoman pimpinan Hillary Clinton yang mengimplementasikan visi Presiden Barack Obama tentang peningkatkan hubungan baik antara Timur Tengah dengan pemerintah Amerika Serikat di bidang energi.

Istri dari Adam Skargard tersebut juga tercatat sebagai penerima penghargaan Diaspora untuk Kewirausahaan dan Keunggulan Korporasi, yang diberikan sendiri oleh Pemerintah Indonesia dan telah diundang bertemu dengan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.

Sekadar informasi, kiprah Diaspora Indonesia saat ini sangatlah besar. Berbagai tokoh yang menjadi anggota komunitas ini kerap menjadi “penghubung” bahkan menjadi investor dalam berbagai investasi di tanah air. Salah satunya adalah pengembangan pendidikan dan teknologi ramah lingkungan.

Seperti dikutip dari Majalah SWA, green technology menurut pandangan Co-Founder dan Executive Director Silicon Valley Asia Technology Alliance, sebuah lembaga nirlaba yang fokus mendorong kolaborasi antara Silicon Valley dengan komunitas teknologi dan bisnis di negara berkembang Asia, ini tidaklah serumit yang dipikirkan orang.

Menurut dia, green technology adalah teknologi yang mampu menghasilkan produk atau jasa yang mendorong manusia untuk lebih efisien menggunakan energi, mengurangi emisi gas rumah kaca dan karbon.

Sejauh ini perhatian akan penggunaan green technology dalam beberapa tahun terakhir sangatlah pesat. Dunia kini berlomba menggaungkan penggunaan teknologi ramah lingkungan, menyusul situasi bumi yang kian mengkhawatirkan.

Pemanasan global yang muncul sebagai dampak dari peningkatan efek rumah kaca dan peningkatan produksi karbon telah menyadarkan masyarakat dunia dari “tidur panjangnya”. Apalagi, berbagai bencana akibat perubahan iklim telah mulai melanda berbagai belahan dunia.

Sonita adalah satu dari sekian tokoh Indonesia yang sangat perhatian terhadap penggunaan green technology dalam setiap inovasinya. Semoga, ke depan akan banyak tokoh-tokoh lain yang terus menyuarakan penggunaan teknologi ramah lingkungan. Tokoh yang senantiasa menebarkan energi baik ke seluruh Indonesia, bahkan dunia.