Remaja Mojosari Buktikan Limbah Itik Bisa Nyalakan Traktor Pembajak Sawah

RAUNGAN mesin traktor pembajak sawah menjadi bukti kerja keras nan panjang tiga siswa SMA 1 Mojosari, Jawa Timur. Traktor bermesin diesel itu dapat hidup dengan mudah meski diisi bahan bakar hasil olahan usus alias organ unggas.

Ups, serius?

Jelas serius. Itu merupakan temuan Imam Ali, Riska Lestari Dewi, dan Shindia Faridhatus Sholikha. Mereka berhasil menemukan energi alternatif dengan menciptakan bahan bakar minyak pengganti solar sebagai bahan bakar mesin diesel.

Temuan cairan sumber penggerak mesin diesel itu mereka namai biolitik alias bio diesel dari limbah itik. Limbah itik ini merupakan bahan dari sisa pemotongan unggas yang diolah sedemikian rupa sehingga menjadi biodiesel.

Di tangan tiga siswa yang baru berusia belasan tahun itu, pembuatan biodiesel itu melalui proses cukup panjang. Utamanya harus mencari dulu limbah itik. Alhasil, mereka mesti blusukan ke pasar mencari sisa-sisa pemotongan unggas yang dapat dimanfaatkan.

Limbah itik bisa dimanfaatkan sebagai bahan olahan biodiesel (CNN Indonesia)

Mereka fokus mengumpulkan organ atau potongan unggas yang tak terpakai. Sebut saja usus, kulit, ceker, atau apapun sepanjang itu berasal dari unggas yang tak digunakan lagi.

Setelah itu, barulah mereka mulai bereksperimen. Eksperimen diawali dengan merebus semua organ itu menjadi satu selama dua jam. Kemudian hasil rebusan itu didinginkan lebih dulu untuk kemudian disuling.

Barulah sulingan yang sekilas sudah mirip minyak itu dicampur dengan menthanol dan natrium hidroksida. Lantas diendapkan selama seharu penuh. Lalu, tralaaaa…jadilah biodiesel.

Nah, sebagai buktinya, biodiesel dari limbah itik itu diujicoba di traktor milik warga. Nyatanya bisa berfungsi normal kok.

Kontan saja hasil eksperimen itu tidak dianggurkan begitu saja. Mereka membawanya ke Lomba Karya Ilmiah Remaja Tingkat Nasional. Setidaknya biar khalayak negeri ini bisa tahu ada solusi energi alternatif yang bisa menjadi pengganti solar.

Kelebihan lainnya, energi alternatif dari limbah unggas ini dianggap tidak mudah terbakar sekaligus sangat ramah lingkungan.

“Para siswa serta saya berharap penemuan ini diuji oleh Kementerian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi agar bisa dikembangkan dan bermanfaat bagi masyarakat, karena energi alternatif ini dianggap tidak mudah terbakar dan sangat ramah lingkungan," ujar Drs. Waras, M.M.Pd Kepala SMAN 1 Mojosari seperti dikutip dari CNN Indonesia.