Sampah Plastik Bikin Jalanan di Indonesia Enggak Bolong-bolong Lagi

By 30 July 2017Teknologi Baik

LAPISAN aspal di permukaan Jalan Raya Bekasi-Cikarang bakal berbeda dengan kebanyakan jalan lain. Yang membedakan adalah materialnya yang terbuat dari campuran limbah plastik dan aspal.

Jalan Raya Bekasi-Cikarang satu di antara jalan yang masuk dalam rencana perbaikan jalan dari Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) dengan material aspal plastik.

Cuma jangan bayangkan jalanan itu berlapis limbah plastik. Yang dimaksud aspal plastik di sini merupakan buah dari penelitian Badan Penelitian dan Pengembangan (Balitbang).

Lembaga itu sudah lama mengembangkan teknologi pemanfaatan limbah plastik untuk material perkerasan jalan atau aspal. Meski begitu, pengujiannya baru dilakukan di area Universitas Udayana, Bali, dan Jalan Raya Sri Ratu Mahendradatta.

"Hasil sementara ini, aspal dengan tambahan material sampah plastik jauh lebih lengket, secara teknis stabilitasnya pun lebih baik. Keuntungannya akan lebih tahan terhadap deformasi, dan daya lekat tinggi," tutur Kepala Balitbang Kementerian PUPR Danis Hidayat Sumadilangga seperti dilansir dari KompasProperti.

Mengubah limbah plastik agar bisa menjadi material aspal plastik dilakukan dengan dua cara. Pertama dry mix yakni pencampuran plastik, terutama kantong kresek, pada agregat. Dan kedua, wet mix yakni pencampuran plastik pada aspal.

Langkah awal, semua limbah plastik itu dibersihkan dan dihancurkan. Setelah itu dicampurkan dengan aspal dengan suhu 170 derajat celcius. Dari situ dihasilkan campuran aspal dengan ketahanan deformasi antara 80 persen untuk 10 persen plastik, hingga 84 persen untuk 5 persen plastik.

Bandingkan ketahanan aspal biasa tanpa plastik di mana deformasinya hanya 63 persen. "Penggunaan plastik 6-8 persen terhadap kadar aspal, akan menyerap limbah plastik sebanyak 2,5 ton hingga 5 ton per kilometer jalan, tergantung pada lebar dan ketebalan jalan," terang Danis.

Pemanfaatan sampah plastik untuk material pembangunan infrastruktur jalan (kompas.com)

Nilai lebih dari aspal plastik adalah lebih ekonomis. Biaya yang dibutuhkan untuk sekali melapisi aspal di jalan sepanjang 700 meter dengan ketebalan 4 centimeter hanya Rp 700 juta. Angka itu jelas lebih murah.

Di samping itu, tingkat stabilitas aspal plastik lebih tinggi dibanding yang konvensional. Bahkan jalan yang diaspal biasa mesti dilapisi berulang agar lebih stabil.

Dari segi ketahanan pun patut diacungi jempol. Danis mengklaim jalanan dengan permukaan yang dilapisi aspal plastik sanggup dilakui kendaraan dengan tonase sampai delapan ton.

Aspal plastik untuk melapisi jalan bisa menjadi solusi jitu membuat Indonesia ke depannya bisa bebas limbah plastik. Maklumlah, produksi sampah plastik di negeri ini sudah dalam taraf mengkhawatirkan.

Misalnya saja sampah plastik di perairan Indonesia di mana ecara global produksinya nomor dua setelah China.Kontribusinya sekitar 57 persen atau 3,32 juta metrik ton per tahun.

Hingga 2019 saja, limbah tak terurai ini diperkirakan mencapai 9,52 juta ton. Jumlah ini merupakan 14 persen dari total sampah yang diproduksi.

Mungkin rasa was-was itu bakal tak berlangsung lama. Sampah plastik yang menjadi masalah sudah ditemukan solusinya. Bila dihitung-hitung, penggunaan sampah plastik sebanyak 2 hingga 5 ton, maka jalan yang bisa dilapisi aspal plastik bisa menapai 190 ribu km! Jarak yang luar biasa jauh.

Selain itu jalan itu juga lebih tahan lama karena lapisan aspal plastik membuat jalan lebih kuat, tahan lama, sekaligus murah dalam pengerjaannya.