Sopir Angkot di Bogor Berbagi Nikmatnya Gunakan BBG dari BBM

By 4 May 2017Umum

PENGGUNAAN gas sebagai bahan bakar tak sekadar menekan polusi udara tapi juga bikin isi kantong makin tebal. Hal ini dibuktikan sopir angkutan umum di Kota Bogor yang merasakan sendiri manfaat dari bahan bakar gas (BBG).

Satu di antaranya adalah Matsari. Pria 58 tahun ini mengaku pendapatannya naik tajam setelah beralih ke BBG. Dia menyebut pengeluarannya untuk biaya bahan bakar menjadi minim usai angkotnya tak lagi menggunakan BBM.

Matsari mengungkapkan sehari-harinya bisa menghabiskan uang sampai Rp 120 ribu untuk membeli BBM. Lain halnya setelah angkotnya mengandalkan BBG sebagai sumber energi, pengeluarannya menurun tajam.

BBG yang dipasok dari PT Perusahaan Gas Negara (Persero) (PGN) dibelinya hanya dengan modal Rp 45 ribu per hari.
"‎Sehari saya paling sedikit Rp 40 ribu, maksimalnya Rp 45 ribu itu pakai gas. Kalau pakai BBM Rp 120-an ribu. Ngirit banyak Alhamdullilah," kata dia seperti dikutip dari Liputan6.com.

Yang tak kalah penting lagi, Matsari menilai penggunaan BBG di angkotnya tak membuat khawatir. Dia percaya standar keamanan BBG terjamin dan jauh dari rasa kekhawatiran.

Selama perawatan kendaraan dilakukan dengan baik, menggunakan BBG justru membawa manfaat."Kita cari hematnya kan cari kelebihan. Kalau nggak hemat buat apa usaha," tukas Matsari.

Apa yang dialami Matsari setelah beralih ke BBG diamini Sales Area Head PGN Area Bogor Elda Sutarda. Selisih harga BBG dengan BBM dalam hal ini premium terpaut jauh. Konkretnya harga BBG yang setara dengan seliter premium ada di kisaran Rp 3.100.

Perbedaan yang jauh ini membuat kolega Matsari tertarik beralih ke BBG. Bahkan saat ini tercatat sudah 400 unit angkot di Bogor yang memercayakan BBG sebagai sumber energinya.

"BBG konsumsi per bulan 100 ribuan meter kubik, melayani 400 unit angkot dan 30-an kendaraan operasional kami (PGN), karena harganya memang murah," jelas Elda.

Kredit foto: Pikiran Rakyat