Temuan Putera Batak yang Hindarkan Danau Toba Tercemar Pewarna Kimia

PEWARNA kimia selama ini menjadi andalan perajin kain tenun ulos di Samosir, Toba Samosir, dan Tapanuli Utara. Memang praktis dibandingkan dengan pewarna alami yang berasal dari tetumbuhan seperti salaon, utom, kayu jabi-jabi dan kayu sona.

Di sisi lain, penggunaan pewarna kimia membuat harga kain ulos menjadi murah dan relatif cepat diproduksi. Berbeda dengan kain ulos yang ditenun secara tradisional dan menggunakan pewarna alami, rata-rata membutuhkan waktu sebulan untuk menyelesaikan. Banderolnya pun sangat mahal hingga Rp 5 juta per lembar.

Sayang, pewarna kimia berdampak pada lingkungan. Sisa limbahnya kerap menyumbang pencemaran Danau Toba. Tentu saja keasrian danau yang terbentuk dari letusan gunung api itu bakal tak sedap dinikmati bila sudah tercemar limbah sisa pewarna dari industri kain ulos.

Tak ingin itu terjadi, sekelompok mahasiswa dari Universitas Negeri Medan (Unimed) pun putar otak. Seperti dikutip dari Intisari, mereka yang terdiri dari Jelita Gultom, Midun Siagian, Ucok Jhon Tamba, dan Jecky Bukit mencari cara agar industri ulos tidak terlalu mengandalkan pewarna kimia.

Perajin ulos di Sumatera Utara (kompas.com)

Usaha mereka berujung pada temuan untuk memanfaatkan ekstrak tumbuhan salaon (Indigofera tinctoria) sebagai bahan pewarna alami benang. Sebelumnya sudah diketahui bila perajin selalu memanfaatkan daun saloun untuk mendapatkan warna biru indigo.

Masalahnya, pewarna alami itu hanya dapat digunakan dalam tempo yang singkat. Maksudnya cuma sekali pakai saja. Hal inilah yang membuat perajin jadi malas menggunakan.

Inilah yang menjadi tantangannya. Mereka lantas menemukan cara efektif agar pewarna alami itu dapat digunakan dalam jangka waktu panjang. Caranya dengan melakukan pengeburan ekstrak daun salaon yang kemudian diendapkan.

Dengan pengendapan itu, dihasilkan esktrak pewarna alami dalam bentuk pasta yang padat. Tak lagi cair seperti yang selama ini dikenal perajin. Yang lebih mengagumkan lagi, pasta pewarna alami itu bisa menghasilan warna yang jauh lebih baik ketimbang pewarna alami.

Nilai tambah lainnya, kain ulos yang menggunakan ekstrak pasta buatan mahaiswa itu lebih tahan luntur. Semua itu sudah diujicobakan. Pendek kata, pasta pewarna alami mereka jauh lebih oke ketimbang pewarna kimia.

Hasil penelitian yang disponsori Kementerian Riset dan Teknologi pada Program Kreativitas Mahasiswa bidang Penelitian (PKM-P) tahun 2017 ini bisa menjadi solusi yang menguntungkan semua pihak. Perajin ulos mendapatkan pewarna alami yang membuat kualitas kain tenun menjadi lebih baik. Dan di saat bersamaan, Danau Toba terhindar dari pencemaran yang serius.