Temuan Teknologi Lokal tapi Juara Internasional

By 9 August 2017Teknologi Baik

YANG muda yang berjaya. Mungkin ungkapan ini sangat pas disematkan kepada para pelajar Indonesia. Mereka yang berada di bawah asuhan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) kembali menyabet berbagai gelar bergengsi dalam berbagai lomba internasional.

Adalah International Exhibition for Young Inventors (IEYI) 2017 dan ASEAN Student Science Project Competition (ASPC) 2017 yang menjadi ajang menyabet medali. IEYI merupakan ajang kompetisi internasional di bidang inovasi teknologi tepat guna yang diselenggarakan di Nagoya, Jepang pada 25-31 Juli 2017.

Dalam keterangan tertulis LIPI, akhir bulan lalu, selain Indonesia ada 14 negara lain termasuk China, Taiwan, India, Italia, Jepang, Filipina, dan Rusia, yang turut ambil bagian dalam kompetisi kali ini. Dua medali emas, dua medali perak, dan satu medali perunggu berhasil diperoleh pelajar Indonesia. Berbagai special award juga diberikan kepada beberapa penelitian.

Salah satu penelitian yang mencuri perhatian, sehingga menyabet medali emas adalah milik Gede Herry Harum Wijaya dan Ni Putu Gita Naraswati dalam kategori Green Technology. Kedua pelajar SMA Bali Mandara ini menciptakan Smart Trash Can, tong sampah yang dapat menanggulangi pencampuran sampah di TPA sehingga sulit diolah. Herry dan Gita juga mendapatkan Special Award dari official Macao.

Selama ini sampah memang telah menjadi permasalahan serius di Tanah Air. Lihat saja, selama 2016 saja Indonesia memproduksi 65 juta ton sampah, naik dibandingkan tahun 2015 sebanyak 64 juta ton sampah. Berdasarkan data Jambeck (2015), Indonesia berada di peringkat kedua dunia penghasil sampah plastik ke laut yang mencapai sebesar 187,2 juta ton setelah China yang mencapai 262,9 juta ton.

Andai tak ada pengolahan dan teknologi yang memadai, sudah bisa dibayangkan Indonesia akan menjadi gudang sampah. Soalnya,laju pertumbuhan penduduk juga terbilang cepat. “Smart Trash Can” buatan dua anak muda bali ini bakal menjadi salah satu teknologi pengolahan sampah masa depan.

Arfan Khairul Wdari berpose bersama inovasinya (LIPI)

Teknologi lain di bidang Green Energy yang juga mencuri perhatian yaitu Floating Hydro. Ini adalah teknologi untuk menghasilkan energi listrik secara portabel untuk wilayah yang belum terjamah PLN.

Teknologi ini diciptakan Arfan Khairul Wdari, siswa Sampoerna Academy untuk kategori Green Technology. Lewat karyanya, Arfan mampu merengkuh medali perak.

Sama seperti halnya sampah, persoalan listrik di Indonesia juga jadi isu besar. Sampai tahun lalu, tercatat ada empat provinsi yang paling parah kekurangan listriknya. Keempatnya adalah Papua, Nusa Tenggara Timur, Sulawesi Tenggara, dan Kalimantan Tengah yang rasio elektrifikasinya masih di bawah 70%. Artinya, 30% daerah di ketiga provinsi tersebut belum tersentuh aliran listrik.

Tentu saja, berbagai inovasi yang dibuat anak-anak muda itu menjadi harapan masa depan Indonesia. Toh, kita sebenarnya tidak kekurangan sumberdaya alam maupun kekurangan manusia cerdas. Tinggal dikembangkan dalam skala yang lebih besar dan luas. Semoga…