Transformasi PRCT yang Awalnya Pesepeda Iseng Jadi Klub Sepeda Elite

By 9 November 2017Bike to Work, Komunitas

FROM nothing to something. Pernyataan yang cukup singkat untuk menggambarkan sepak terjang komunitas PGN Road Cycling Team (PRCT). Dari awalnya yang sekadar kumpulan pesepeda, kini bertransformasi menjadi tim pesepeda yang disegani. Bahkan, kiprahnya sudah sejajar dengan tim balap sepeda di kawasan Asia Tenggara.

PRCT hampir tak pernah absen naik podium di berbagai kompetisi balap sepeda di Tanah Air. Mulai dari Tour de Siak sampai Tour de Linggarjati. Per 26 Oktober 2017 PRCT sudah mengoleksi 89 podium.

Hanya butuh 11 podium lagi agar bisa menggenapkannya menjadi 100. Jauh meningkat dibandingkan 67 podium pada sepanjang 2016.

”Tiga tour besar akan kita ikuti sampai Desember (2017). Kejuaraan nasional masih ada lima even lagi. Undangannya sudah masuk semua. Tambahan 11 podium sih kemungkinan besar ya ada karena hampir tiap race kami dapat podium,” ungkap Eri Surya Kelana, Ketua Umum PRCT.

Mungkin tak ada yang menyangka PRCT menjadi klub balap sepeda profesional. Padahal awalnya sekitar empat tahun lalu hanyalah kumpulan karyawan PGN yang disatukan dalam satu hobi, yakni gowes.

Siap-siap go internasional.

Seringnya frekuensi dan konsistensi ‘ngumpul’ untuk bersepeda mendorong melahirkan komunitas bernama Gas Bike/Bicycle Road (GBR). Pelan tapi pasti, jumlah anggota makin membengkak setelah banyak bertemu dengan para pelaku hobi yang sama dari luar lingkungan PGN.

Dari sinilah muncul gagasan mengikuti kompetisi. Keputusan yang akhirnya mengubah perjalanan PRCT di masa depan. Rentetan prestasi yang diraih membuat PGN turun tangan untuk mendukung.

Terlebih lagi bersepeda selaras dengan semangat PGN yang konsisten mengalirkan energi baik gas bumi. Energy yang efisien, ramah lingkungan, dan berkelanjutan. ”Sejak 2015 PGN sudah membantu untuk pembinaan. PGN melihat ada hubungan industrial yang lebih optimal dari kegiatan bersepeda. Sebab sepeda adalah olahraga yang merakyat, murah tapi tidak murahan, bersih atau green begitu, dan lomba banyak di setiap tahunnya,” papar Eri.

Tercatat, PRCT sudah memiliki 31 atlet yang seluruhnya dibina PGN. Rata-rata atlet itu berasal dari berbagai daerah yang menjadi lokasi operasional PGN. Menariknya, atlet-atlet itu seringkali diminta mewakili daerahnya ikutan ajang Pekan Olahraga Nasional (PON). ”Bila suatu saat negara membutuhkan, kita siap support,” tekan Eri.

Semua kisah manis itu sebenernya berangkat dari ‘dedikasi’ dan ‘pengorbanan’ pengurusnya. PRCT lahir dengan swadaya. Bahkan mesti pandai-pandai membagi waktu. Seperti misalnya Eri yang menjabat Direktur Keuangan dan Administrasi PGN LNG.

”Saya pernah bilang ke teman-teman; selama kamu main maunya dibayarin, sulit ke PRCT. Karena PRCT bukan ngebayar tapi malah ngeluarin uang. Jadi harus mau berkorban dulu,” ucapnya.

Beruntung, teman-teman di PRCT menilai semua aktivitas di klub semata-mata dalam rangka ibadah. Prinsip sederhana itu justru menjadi kekuatan bagi pengurusnya. ”Ternyata juga bermanfaat buat atlet dan lain sebagainya hingga mereka bisa optimal,” tukas Eri yang sudah akrab dengan gowes sejak tahun 1997 ini.