Wahai Pengguna Elpiji, Siap-siap Move On ke CNG

By 21 November 2017Umum

GAS bumi, walau bagaimanapun, tetap lebih efisien. Bukan hanya menguntungkan bagi para pengguna tetapi juga membantu penghematan Negara. Aliran energi baik gas bumi melalui pipa distribusi sudah pasti lebih hemat. Soal itu tidak perlu diperdebatkan lagi.

Nah bagaimana kalau gas bumi yang dikemas dalam tabung alias Compressed Natural Gas (CNG)? Dibanding LPG (elpiji) seperti sekarang banyak dipakai rumah tangga dan usaha kecil sampai menengah, CNG seperti diproduksi PT Perusahaan Gas Negara (Persero) Tbk (PGN) juga masih lebih hemat.

Alasannya, CNG diambil dari gas dalam negeri. ”CNG itu kan natural gas yang dikompres,” Direktur Utama PGN, Jobi Triananda Hasjim, saat disinggung tentang produk CNG di Bogor, belum lama ini.

Bahan baku CNG sudah terhubung dengan pipa tabung yang ada, diisi di situ lalu distribusi. Mata rantai produksinya pendek dan di dalam negeri.

Sebaliknya gas untuk kalau elpiji sifatnya likuid. Rantai produksinya cukup jauh dan gas di Indonesia tidak semuanya ada fraksi beratnya. Sehingga tidak semua gas nasional bisa dijadikan elpiji. Gas di Indonesia banyak metannya. Kebanyakan produk gas layak elpiji ada di Timur Tengah.

Kendaraan yang sudah menggunakan BBG sebagai sumber energi (pgn.co.id)

Diproduksi di sana, diangkut pakai kapal besar kemudian pindah ke kapal kecil agar bisa masuk Stasiun Pengisian Bahan Bakar Elpiji (SPBE). Setelah itu ada jalur distribusi lagi supaya bisa sampai ke tangan konsumen.

Indonesia diperkirakan melakukan impor elpiji sebanyak 7 juta ton pada 2017. Angka tersebut setara dengan 70 persen dari kebutuhan elpiji tahun ini. Nah! Sambil menunggu CNG dipasarkan secara luas, setidaknya pemahaman tentang CNG dan elpiji perlu dikuasai. Supaya gampang move on!

Selain diyakini harga CNG akan jauh lebih murah untuk para pengguna, peralihan ke gas bumi dalam bentuk tabung juga akan mengurangi beban impor Negara. Dengan begitu Indonesia bisa lebih berhemat.